Bagaimana metodologi Pembelajaran Bahasa Arab sekarang?

Kalau dicermati dari pertumbuhan ilmu, banyaknya metode itu tandanya banyaknya peminat dan pengkaji bhs Arab. Sehingga mereka bersifat untuk mencari metode baru sebagai solusi untuk menutupi kekurangan  maupun memperbaharui metode yang lama.

Karena metode kan itu tidak harus satu, kalau satu itu lucu dan itu kan harus sesuai bersama kepentingan dan obyek terhadap setiap pembelajaran. Misalnya pembelajaran Qawaid dan terjemah maka metode yang digunakan adalah metode qowaid wa al-tarjamah karena obyek dari pembelajaran ini adalah jelas susunan dan dapat menterjemahkan.

 

Dari aspek ilmiah banyak metode yang harus dikritisi dan diuji lagi kalau metode-metode yang sudah mapan. Contoh metode Alwan, Granada, Tamyiz, kalau menurut aku belum dikatakan sebagai metode, hanya baru gagasan saja karena harus diuji secara empirik.

 

Oleh karena itu,  kalau tidak diuji bakal timbul terhadap seseorang atau kelompok yang main klaim saja bahwa ini adalah metode yang bagus.  Dalam hal ini UIN Jakarta harus beri tambahan peluang dan memfasilitasi para peneliti maupun pakar bhs untuk melengkapi metode-metode yang belum sempurna.

 

Menurut Anda penggunaaan buku Ajar bhs Arab di UIN seperti apa?

Kalau ditingkat UIN Jakarta khususnya, tetap bervariasi. Hal ini terkait orientasi dan kebijakan setiap fakultas. Bisa jadi fakultas A mengfungsikan buku ini, dan fakultas B mengfungsikan buku yang lain lagi, karena mempunyai kepentingan sendiri-sendiri.

 

Yang terutama adalah silabi atau Satuan Acara Perkuliahan (SAP) diarahkan kepada apa, dan tujuannnya apa. Kalau sesungguhnya buku yang dipilih sesuai obyek maka itu sudah relevan, namun kalau belum maka belum dikatakan relevan.

Masih tersedia yang harus ditinjau dan dikritisi kembali. Secara umum aku melihat, buku –buku berbahasa Arab agak sedikit tertinggal dari bhs Inggris baik terhadap tingkat perguruan tinggi maupun terhadap tingkat madrasah.

Harapan kami, kami harus sungguh-sungguh menanggulangi ketertinggalan bersama bhs Inggris. Sebab kala ini, kami tetap condong berkiblat ke bhs Inggris. Ke depan yang harus digalakkan dan harus diujicoba adalah bahan ajar agar lebih valid dan terbukti.

 

Saya tegaskan lagi, selama ini pembelajaran bhs Arab terlebih dari segi kontennya tetap condong ke arah fikih, keislaman, dan bobotnya jauh lebih kental dibandingkan bobot keilmuanya. Ke depan jangan sampai tersedia kesan bahwa studi bhs Arab itu hanya agamis saja, padahal bhs apa-pun itu netral bobot budaya, maupun muatan keilmuan dan sejarahnya, nah itu menurut aku yang harus dibenahi atau revesi di sesudah itu hari.

Menurut Anda, adakah tips didalam mempelajari bhs Arab?

Tidak ada. Akan namun tersedia suatu ungkapan “ Jarrib wala hizhtakun ‘arifan” dari ungkapan ini dapat diartikan pertama, bahwa  studi itu adalah bersama mencoba, artinya tidak was-was salah, terus menerus, tidak dulu putus asa, tidak dulu patah arang di tengah jalan, selalu mencatat, dan seandainya harus sering-sering bergaul bersama orang asing (native speaker). Maka petunjuk aku yakni harus mencari bahan-bahan istima, atau  lainnya di internet, buku, ikut kursus bahasa arab maupun terhadap narasumber atau pakar bahasa.  Sehingga kami bakal selalu terpacu untuk berlatih, dan terus berlatih.

Yang kedua, berlatih berkata sendiri baik di kamar belajar, ruang makan, dan di kantin. Yang orientasinya seandainya berjumpa kawan langsung dipraktekan baik saat mengajukan pertanyaan maupun menjawab pertanyaaan terhadap diskusi, atau acara seminar bersama bhs Arab meskipun tetap terbata-bata atau belum lancar.

 

Ketika sudah miliki kebiasaan berkata bersama bhs Arab harus diseimbangkan bersama menulis, intinya studi bhs itu harus lewat sistem dan bertahap bukan instan atau asal bisa. Sebab studi adalah berlatih dari yang enteng sampai terhadap yang sulit, kompleks, dan itu mungkin butuh waktu, tidak seperti buat mie instan yang sekali diaduk langsung jadi.  Dan terus menerus mencari, dan berlatih karena bersama motivasi maka bakal timbul tradisi berbahasa baik lisan maupu tulisan.

Disertasi Anda mengangkat tentang tokoh pemikir bhs Arab, dapat Anda jelaskan?

Ya, disertasi aku mengangkat tentang pemikir bhs yakni Tammam Hasan. Teori linguistik Tammam Hasan tentang nahwu merupakan hasil ijtihad linguistiknya yang mencampurkan pada warisan khazanah pemikiran klasik, terlebih pemikiran nahwu ‘Abd al-Qohir al-Jurjani, dan teori –teori linguistik modern, terlebih teori konteks J.R. Firth.

 

Dalam mengembangkan pemikiran nahwu, Tammam mengupayakan mengapresikan pemikiran klasik sambil memperbaharui dan mencari relevansi pengembangannya bersama pemikiran linguistik modern.

Karena itu, tidak semuanya benar pendapat sebagaian ulama nahwu bahwa pengetahuan nahwu itu sudah masak dan tuntas. Menurut Tammam, pengetahuan nahwu tidak statis, dan dinamis dan terus dapat dikembangkan.

You May Also Like

About the Author: Dreaseenown

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *